Langsung ke konten utama

Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mengoptimalkan Otak Kanan

Kiat Guru Kreatif KEMBANGKAN OTAK KANAN! "Otak kreatif adalah otak kiri dan otak kanan yang bekerja sinergis" (Dilip Mukerjea) PEMBELAJARAN kita cenderung dominan menggunakan otak kiri, bahkan kekuatan otak kiri dibakukan dengan serangkaian tes IQ (Intelligence quotien). Seseorang yang memiliki skor IQ tinggi dianggap pintar, cerdas, dan jenius. Adapun yang skor tes IQ-nya rendah dianggap bodoh. Lalu bagaimana dengan otak kanan? Apakah pembelajaran menuntut otak kanan yang dominan? Jawabnya ya' dalam tanda kutip. Artinya, dituntut dominan otak kanan dengan tidak mengabaikan otak kiri. Tentu saja contoh konkritnya seperti kita berjalan, yaitu melangkah bergantian kiri dan kanan. Bobby de Potter dalam bukunya Quantum learning membongkar mitos seputar IQ. Banyak orang yang ternilai lQ tinggi pastilah sukses dalam hidup dan kariernya, padahal itu bukan jaminan. Coba kita lihat Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation yang pernah menduduki singgasana orang terkaya di dunia, p...

Kreatif dalam Menggunakan Media dan Ice Breaker selama Pembelajaran

Kiat Guru Kreatif

Kreatif dalam Menggunakan Media dan Ice Breaker selama Pembelajaran

Cara Menjadi Kreatif Dalam Menggunakan Media Pembelajaran


Istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media dalam pembelajaran didefinisikan oleh berbagai pakar dan organisasi sebagai berikut.
  1. Association of Education communication Technology (AECT) media adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan.
  2. National Education Asociation (NEA) memberikan batasan bahwa media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun Audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya.
  3. Briggs berpendapat bahwa media merupakan alat memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar
  4. Gagne berpendapat bahwa berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Dari berbagai pendapat di atas Rudi Susilana dan Cepi Riyana menyimpulkan bahwa media embelajaran merupakan wadah dari pesan, materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai ialah proses pembelajaran.

Penggunaan media secara kreatif akan memperbesar kemungkinan bagi siswa untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan penampilan dalam melakukan keterampilan sesuai dengan yang menjadi tuiuan pembelajaran.

Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Secara khusus manfaat media dijabarkan Ardiani Mustikasari sebagai berikut.

  1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
  2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
  3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
  4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
  5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
  6. Media memungkinkan proses belaiar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja
  7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
  8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif

Adapun kelompok media diklasifikasikan oleh Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2007: 13) sebagai berikut.
  1. Media gravis, bahan cetak, dan gambar diam
  2. Media proyeksi diam
  3. Media audio
  4. Media audio visual diam
  5. Film
  6. Televisi
  7. Multi media

Dengan beragamnya media yang ada tentunya guru diharapkan kreatif dan produktif menyusun media agar benar-benar bermanfaat bagi siswa, sebab setiap media tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kreativitas guru menyusun media harus memerhatikan hal-hal sebagai berikut.
  1. Karakteristik peserta didik
  2. Materi pembelajaran yang akan disajikan
  3. Tujuan yang hendak dicapai
  4. Sarana dan prasa yang tersedia di lingkungan sekolah

Hal-hal di atas penting sebab jangan sampai guru hanya membuat media untuk keperluan kenaikan pangkat atau sertifikasi. Intinya kunci pembuatan media adalah untuk membantu siswa lebih memahami materi yang dipelajari.

Sarana dan prasarana yang tersedia juga menjadi perhatian penting dalam pembuatan media, jangan sampai guru membuat media berbasis power point, tetapi fasilitas semacam LCD maupun proyektor tidak tersedia di sekolah.

Guru yang kreatif justru harus mampu memanfaatkan lingkungan sekitarnya untuk dijadikan media dan sumber belajar. Seperti yan dilakukan oleh Puji Lestari, S. Pd guru MTsN Giriloyo Bantul yang mampu memanfaatkan bunga waru untuk media praktikum asam basa. Bunga waru oleh beliau dibuat dalam bentuk kertas bunga waru atau kain bunga waru dan koktail bunga waru agar lebih menarik bagi siswa dalam pembelajaran. Kreativitas beliau menciptakan media tersebut membuatnya menjadi juara I Lomba Kreativitas llmian Guru ke-18 yang digelar oleh LIPI, untuk bidang MIPATEK tingkat SMP


Cara Menjadi Kreatif dalam Memanfaatkan Ice Breaker


Ketika persiapan telah komplit, guru pun telah mampu menggunakan metode pembelajaran yang tidak monoton, serta telah menggunakan media yang kontekstual, tetapi siswa belum menunjukkan hasil pembelajaran yang memuaskan, apakah ada yang kurang? Bisa jadi faktor siswa penyebabnya, seperti siswa kurang konsentrasi, lelah karena dari pagi sudah mengikuti pembelajaran, capek karena aktivitasnya yang sama, dan lain sebagiannya. Kalau kita cermati pada awalnya grafik tingkat daya serap siswa terhadap apa yang disampaikan guru cukup tinggi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, beberapa menit kemudian terjadilah penurunan memori atau tingkat daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Untuk itu, guru kreatif harus mampu mengatasinya. Ice breaker bisa dimanfaatkan guru untuk memecah kebekuan, memberikan penyegaran dan mengembalikan konsentrasi belajar siswa.

Ice breaker dapat dilakukan dengan berbagai macam cara atau permainan. Menurut The Encyclopedia of lce Breaker terbitan University Associates Inc (1976) ) bentuk ice breaker ada bermacam-macam mulai dari sekedar teka-teki, cerita-cerita lucu atau humor ringan yang memancing nyum, lagu-lagu atau nyanyian yang disertai gerakan tubuh (action song) sampai permainan-permainan berkelompok yang cukup menguras tenaga atau bahkan pikiran.

Selain itu, dapat juga dilakukan dengan melakukan brain gym (senam otak).  Ice breaker yang sering kita temukan pada saat pelatihan-pelatihan dimodifikasi secara kreatif sehingga sesuai untuk diterapkan di kelas. Ice breaker dapat dilakukan di awal pembelajaran, agar dapat membangun suasana sehingga lebih fokus pada pembelajaran. Dapat juga diterapkan di tengah-tengah pembelajaran, sebagai pengubah suasana jenuh dan membangkitkan fokus yang mulai luntur, sedangkan jika dilakukan menjelang akhir pembelajaran, bermanfaat untuk menegaskan materi yang baru disampaikan.

Ice Breaker ada yang berbentuk joke-joke disampaikan lisan, tayangan-tayangan audio visual berupa klip-klip lucu, atau permainan-permainan yang menyenangkan. Hanya perlu diingat bahwa kegembiraan yang ditimbulkan oleh ice breaker tidak boleh membuat suasana jadi ribut dan hura-hura, kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal. Kegembiraan dalam pembelajaran di ruang-ruang kelas harus berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri si pembelajar. Maka, sekali lagi guru harus kreatif memodifikasi dan memanfaatkan ice breaker.

Apabila guru kesulitan menemukan ice breaker dapat di unduh di internet. Penulis juga memberikan beberapa contoh lce breaker yang dapat diterapkan di kelas, dan dapat dibaca pada bagian selanjutnya
artikel ini.

Itulah tadi cara menjadi Kreatif dalam Menggunakan Media dan Ice Breaker selama Pembelajaran, semoga artikel ini bisa membantu teman-teman pembaca :)


Sumber: Creative Learning: Narwanti, Sri. Kiat Menjadi Guru Kreatif dan Favorit. 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mengoptimalkan Otak Kanan

Kiat Guru Kreatif KEMBANGKAN OTAK KANAN! "Otak kreatif adalah otak kiri dan otak kanan yang bekerja sinergis" (Dilip Mukerjea) PEMBELAJARAN kita cenderung dominan menggunakan otak kiri, bahkan kekuatan otak kiri dibakukan dengan serangkaian tes IQ (Intelligence quotien). Seseorang yang memiliki skor IQ tinggi dianggap pintar, cerdas, dan jenius. Adapun yang skor tes IQ-nya rendah dianggap bodoh. Lalu bagaimana dengan otak kanan? Apakah pembelajaran menuntut otak kanan yang dominan? Jawabnya ya' dalam tanda kutip. Artinya, dituntut dominan otak kanan dengan tidak mengabaikan otak kiri. Tentu saja contoh konkritnya seperti kita berjalan, yaitu melangkah bergantian kiri dan kanan. Bobby de Potter dalam bukunya Quantum learning membongkar mitos seputar IQ. Banyak orang yang ternilai lQ tinggi pastilah sukses dalam hidup dan kariernya, padahal itu bukan jaminan. Coba kita lihat Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation yang pernah menduduki singgasana orang terkaya di dunia, p...

Macam-Macam Metode Pembelajaran

Kiat Guru Kreatif Macam-Macam Metode Pembelajaran  Guru yang kreatif hendaknya tidak hanya terpaku dengan ceramah saat menyampaikan pembelajaran, tetapi juga mampu mengaplikasikan metode pembelajaran aktif, kooperatif, dan lain-lain. Untuk memberikan pengalaman yang berbeda, guru harus membuat aktivitas dalam belajar menjadi bervariasi, sehingga metode pembelajaran yang digunakan harus bervariasi. Misal, dalam proses pembelajaran, apabila guru akan menerapkan metode ceramah, maka ceramah harus divariasikan dengan metode pembelajaran yang lain (Sumiati dan Asra, 2008: 98). Dapat pula ceramah hanya sebagai pengantar saja kemudian menerapkan metode lainnya. Metode pembelajaran sangat beraneka ragam. Metode pembelajaran yang dipilih sepatutnya disesuaikan dengan bentuk dan hasil belajar yang diharapkan diperoleh siswa. Secara umum, penerapan metode pembelajaran meliputi empat kegiatan utama, yaitu kegiatan awal yang bersifat orientasi, kegiatan inti dalam proses pembelajaran, penguatan...