Kiat Guru Kreatif
KEMBANGKAN OTAK KANAN!
"Otak kreatif adalah otak kiri dan otak kanan yang bekerja sinergis" (Dilip Mukerjea)
PEMBELAJARAN kita cenderung dominan menggunakan otak kiri, bahkan kekuatan otak kiri dibakukan dengan serangkaian tes IQ (Intelligence quotien). Seseorang yang memiliki skor IQ tinggi dianggap pintar, cerdas, dan jenius. Adapun yang skor tes IQ-nya rendah dianggap bodoh. Lalu bagaimana dengan otak kanan? Apakah pembelajaran menuntut otak kanan yang dominan? Jawabnya ya' dalam tanda kutip. Artinya, dituntut dominan otak kanan dengan tidak mengabaikan otak kiri. Tentu saja contoh konkritnya seperti kita berjalan, yaitu melangkah bergantian kiri dan kanan.
Bobby de Potter dalam bukunya Quantum learning membongkar mitos seputar IQ. Banyak orang yang ternilai lQ tinggi pastilah sukses dalam hidup dan kariernya, padahal itu bukan jaminan. Coba kita lihat Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation yang pernah menduduki singgasana orang terkaya di dunia, pada masa sekolahnya justru pernah tidak naik kelas. Contoh yang lain Abdurrahman Wachid (Gus Dur) Presiden Indonesia ke-4 pernah tidak naik kelas saat sekolah menengah di Jakarta. Kesuksesan yang mereka raih bukan karena IQ mereka yang tinggi saat di sekolah. Melainkan, karena mereka mengembangkan kemampuan otak kanannya selama masa perkembangan kedewasaannya. Kerja yang seimbang otak kanan dan otak kiri akan menghasilkan kinerja otak yang sangat maksimal.
Seorang guru harus kreatif membuat pembelajaran yang mengakomodasi perkembangan otak kanan dan otak kiri, sehingga mampu menghantarkan siswa menuju kesuksesannya di masa depan.
BACA JUGA: Keterampilan Mengajar yang Harus dikuasai Guru Kreatif
Karakteristik Otak Kanan
Untuk mengembangkan otak kanan terlebih dahulu kita harus mengetahui karakteristiknya, berikut perbedaan karakteristik otak kiri dan otak kanan menurut Ippho Santosa.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mengoptimalkan Otak Kanan
1. Hargai kreativitas dan imajinasi siswa
2. Mengajar dengan humor
Ippho santosa menyatakan mengembangkan otak kanan adalah dengan tertawa. Tertawa wasiat pertamanya untuk memiliki manfaat secara psikologis dan biologis. Tertawa mengurangi kerasnya detak jantung akibat stress, mengurangi sakit akibat radang sendi dan kejang otot, meningkatkan kapasitas paru-paru, meningkatkan daya tahan tubuh dan melancarkan peredaran darah.
Bayangkan apabila Anda mampu menyajikan pembelajaran dengan disertai humor, maka siswa bebas stress. Tentunya Anda akan menjadi guru yang pembelajaran Anda membuat selalu diidam-idamkan setiap siswa.
3. Hiasi pembelajaran dengan game-game menyenangkan
Dengan game-game pembelajaran menjadi tidak kaku. Ketika seseorang sedang ngegame ia akan cenderung lebih bersemangat dan antusias. Pembelajaran dengan disertai game dapat diterapkan diberbagai tingkat pendidikan. TK harapan Bangsa adalah sebuah sekolah yang menyajikan pembelajaran dengan strategi pembelajaran "Learning by Games'", yaitu strategi pembelajaran yang disampaikan melalui permainan dengan tidak meninggalkan unsur-unsur edukatif. Sekolah ini pun sering kali mengadakan bedah kurikulum untuk menyesuaikan apakah metode yang dipakai akan sesuai dan berdampak pada perkembangan pembelajaran siswa.
Sebelum menentukan permainan yang akan diberikan kepada anak-anak, guru harus mengetahui dulu apa saja yang termasuk dalam kategori permainan edukatif. Kategori permainan edukatif menurut Ari Yudha antara lain:
- Bagi anak-anak permainan yang dibuat tentunya harus sesuai dengan kondisi fisik dan psikologis siswa
- Multifungsi
- Melatih problem solving
- Melatih konsep-konsep dasar
- Melatih ketelitian dan ketekunan
- Merangsang kreativitas
BACA JUGA: Macam-Macam Metode Pembelajaran
4. Manfaatkan musik
Menurut Plato musik adalah alat yang lebih potensial daripada yang lainnya dalam belajar. Musik membuat seseorang rileks ketika tubuh rileks alam bawah sadar siswa akan mencerna informasi dengan lebih mudah dan dalam jumlah besar.
5. Gerakkan otak kanan
Tubuh bagian kiri kita digerakkan oleh otak kanan, maka apabila siswa sering menggunakan tubuh sebelah kanan tidak ada salahnya kita mencoba menggerakkan tubuh sebelah kiri.
Misalnya, siswa selalu terbiasa menulis dengan tangan kiri, maka bisa jadi kita meminta siswa untuk mencoba menulis dengan tangan kiri. Awalnya aktivitas ini mungkin akan menuai protes dari siswa, maka tugas guru lah untuk menjelaskan tujuan dan manfaatnya, sekaligus guru juga memberikan contoh menulis dengan tangan kiri.
BACA JUGA: Kreatif dalam Menggunakan Media dan Ice Breaker selama Pembelajaran
Itulah tadi prinsip-prinsip pembelajaran yang mengoptimalkan otak kanan anak, semoga artikel ini bisa membantu teman-teman pembaca :)
Sumber: Creative Learning: Narwanti, Sri. Kiat Menjadi Guru Kreatif dan Favorit. 2020

Komentar
Posting Komentar